Total Tayangan Halaman

Minggu, 15 April 2012

“METODE PADAN DAN METODE AGIH”


RESUME
“METODE PADAN DAN METODE AGIH”
 (METODE DAN ANEKA TEKNIK ANALISIS BAHASA)
Sudaryanto

Dosen Pengampu : Prof. Dr. H. Sumarlam, M.S.


LOgo.jpg


Disusun guna melengkapi tugas mata kuliah Metode Penelitian Linguistik

Oleh :
DWI MARYANI
C0109009


JURUSAN SASTRA JAWA
FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012



METODE PADAN DAN METODE AGIH

Metode yang digunakan dalam upaya menentukan kaidah dalam tahap analisis data, ada dua yaitu : metode padan dan metode agih.
1.      Metode Padan
Metode padan, alat penentunya di luar, terlepas dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan. Berdasarkan alat penentu metode ini dapat dibedakan menjadi lima sub-jenis antara lain :
a.       Kenyataan yang ditunjuk oleh bahasa (referent) bahasa
b.      Organ pembentuk bahasa atau organ wicara.
c.       Bahasa lain atau (langue) lain.
d.      Perekam, pengawet bahasa (yaitu tulisan)
e.       Orang yang menjadi mitra wicara.
Referent atau apa yang dibicarakan, organ wicara, dan orang yang menjadi mitra wicara, jelas kesemuanya bukanlah bahasa, sedangkan langue lain, seperti ternyata dari penyebutannya, jelas bukanlah bahasa yang menjadi sasaran penelitian itu kejatian atau identitasnya ditentukan berdasarkan tingginya kadar kesepadanannya, keselarasannya, kesesuaiannya, kecocokannya, atau kesamaannya dengan alat penentu yang bersangkutan yang sekaligus menjadi standart atau pembaku-nya.
Metode padan digunakan apabila bahsa yang diteliti memang sudah memiliki hubungan dengan hal-hal di luar bahasa yang bersangkutan, bagimanapun sifat hubungan itu.
-          Nomina sering disebut kata benda ialah kata yang menunjuk pada atau menyatakan benda-benda dan verba yag sering disebut kata kerja
-          Kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan tertentu maka orang yang bersangkutan berada dalam jalur kerja metode padan pada sub-jenis pertama.
-          Vokal adalah bunyi yang dihasilkan tanpa penghalangan kecuali pada pita suara.
-          kalimat adalah serentetan bunyi yang diakhiri oleh kesenyapan karena tiada lagi kerja organ wicara (alat penentu kedua ; organ wicara)
Verba atau kata kerja Bahasa indonesia adalah kata yang dalam Bahasa Inggris, Prancis, atau bahasa Indo-eropa lainnya dikonjugasikan dan kata depan atau preposisi bahasa Indonesia .
Bagan sub-jenis metode padan
Alat Penentu
Nama Metode
1.      Referen
2.      Organ wicara
3.      Langue lain
4.      Tulisan
5.      Mitra wicara
Referensial
Fonetis Artikulatoris
Translasional
Ortografis
Pragmatis

  1. Metode Agih
Metode agih alat penentunya justru bagian bagian dari bahasa yang bersangkutan itu sendiri. Bila orang sampai pada suatu penentuan bahawa nomina atau kata benda dalam bahasa Indonesia itu ialah kata yang dapat bergabung dengan kata ingkar atau kata negatif bukan tetapi tidak dapat dengan tidak, atau merupakan kata yang dapat bergabung dengan preposisi atau kata depan dan dapat menjadi objek atau subjek maka orang yang bersangkutan berada dalam jalur kerja metode agih,.
Banyak masalah yang ditentukan secara padan sebagaimana disebutkan di atas dapat ditentukan secara metode agih. jadi, bukan hanya mengenal nomina atau kata benda saja, tetapi juga mengenal kata atau satuan lingual yang lain. Verba atau kata kerja dalam bahasa Indonesia, misalnya dapat ditentukan berdasarkan metode agih juga manakal orang yang sampai kepada rumusan bahwa verba ialah kata yang secara dominan dapat mengisi predikat, dapat bergabung dengan kata ingkar atau negatif tidak, dan dapat disertai oleh adverbial yang berbentuk frasa yang berunsurkan dengan + adjektiva atau adverbia yang berpolakan se + reduplikasi adjektiva + -nya.
Alat penentu dalam rangka metode agih itu, selalu berupa bagian atau unsur dari bahasa objek saran penelitian itu sendiri, seperti kata (kata ingkar, preposisi, adverbial), fungsi sintaksis (subjek, objek, predikat), klausa, silabi kata, titi nada, dan yang lain (Sudaryanto, 1993:15-16).

  1. Catatan
Dalam sejarah kehidupan linguistik tampak kedua jenis metode itu dipakai entah secara silih berganti entah secara bersama-sama. Hal itu tercermin dari tat nama yang dipakai sampai kini.
Penyebutan yang cukup populer seperti kata depan atau preposisi, awalan atau prefiks, dam akhiran atau sufiks serta penyebutan yang lebih teknis seperti antecedet atau pendahulu, letak kanan, letak kiri, lekat kanan. lekat kiri, subjek di depan predikat, kesemuanya merupakan penyebutan yang berdasarkan metode padan yang ortografis. Penyebutan itu berdasarkan penampakan satuan lingual yang bersangkutan pada tulisan latin yang berderet horizontal ke kanan. demikian pula penyebutan pelaku, penderita, pemilik, dan banyak lainnya, juga berdasarkan metode padan: dalam hal ini, metode padan yang referensial. Penyebutan pelaku dan seterusnya itu mengingatkan orang pada peran konkret dalam peristiwa yang diungkapkan oleh bahasa.
Sementara itu, penyebutan imbuhan atau afiks, kata dasar, kata sambung, induk kalimat, kata inti, pelengkap, dan banyak lainnya, lebih merupakan penyebutan berdasarkan metode agih. Imbuhan diimbuhkan pada satuan lingual lain; kata dasar mendasari pembentukan satuan lingual yang bentuknya lebih ‘besar’ kata sambung menyambung dua macam satuan lingual; induk kalimat ‘menginduki’ kalimat lain disebut anak kalimat demi pembentukan kalimat yang lebih ‘besar’ yang biasa disebut kalimat majemuk dan seterusnya.










DAFTAR PUSTAKA

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa, Pengantar Penelitan Wahana Kebudayaan Secara Linguistik. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

RESUME BUKU “METODE DAN ANEKA TEKNIK ANALISIS BAHASA” Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistik


RESUME BUKU
“METODE DAN ANEKA TEKNIK ANALISIS BAHASA”
Pengantar  Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistik









Disusun guna melengkapi tugas mata kuliah ‘Metode Penelitian Linguistik’
Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. Sumarlam, M.S.
Semester: VI


Oleh:
DWI MARYANI      C0109009
NUR YUDIYANTI  C0109029


JURUSAN SASTRA JAWA
FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2012

BAB I
PENDAHULUAN
            Hal-hal yang terkait dengan metode dan aneka teknik analisis bahasa adalah sebagai berikut: (1) Kurun Kegiatan Penelitian Bahasa, (2) Puncak Tahap Penelitian Bahasa, (3) Pengertian Metode dan Teknik Dalam Rangka Analisis Bahasa. Tiga konsep tersebut merupakan suatu konteks yang  diharapkan dapat menunjukkan kejelasan metode dan teknik analisis yang akan dibicarakan di bawah ini.

1. Kurun Kegiatan Penelitian Bahasa
            Kegiatan penelitian bahasa ini terbagi ke dalam dua kurun proses besar, yaitu:
(a.) Kurun Pencarian/ Penemuan Masalah (terkait dengan ihwal kekaburan fenomen lingual bagi peneliti), (b.) Kurun Pemecahan Masalah (terkait dengan kegenahan fenomen lingual bagi penutur. Yang dimaksud masalah adalah suatu fakta lingual yang disebut “Objek/ Sasaran Penelitian/ Gegenstand”. Kemudain fenomen  yang dimaksud terdiri dari tiga aspek, yaitu: bentuk, makna dan hubungan antar fenomen.
            Dalam kurun penemuan masalah ini, dikatakan selesai dan telah menemukan masalah apabila ‘menemukan beberapa atau berbagai sosok fenomen terdapat kekeburan yang tebal’. Pada saat itu, peneliti tidak tahu lagi perbedaan, kesamaan, atau hubungan antar fenomen yang ada. Dan peneliti telah yakin bahwa fenomen tersebut tetap genah kejatiannya masing-masing. Genah, berarti tertentu adanya bagi si penutur dan tertentu pula tempatnya di antara hal-hal lain yang relevan yang disadari oleh si penutur yang sama. Hal ini menyebabkan peneliti harus memasuki kurun kedua, yaitu kurun pemecahan masalah. Dalam kurun kedua ini, sang peneliti berusaha memahami (untuk dirinya sendiri) dan menjelaskan (kepada orang lain) ihwal apa yang kabur, baik bagi dirinya sendiri sebagai peneliti bahasa, maupun bagi peneliti yang lain.



2. Kurun Penemuan Masalah: Tahap-Tahap dan Upayanya
            Dalam upaya menemukan masalh kebahasaan yang akan diteliti itu, berdasarkan tahap-tahap yang akan dilalui bergantung pada besar kecilnya atensi dan luas sempitnya pengetahuan, pandangan dan wawasan sang peneliti terhadap bidang kebahasaan yang digeluti.
            Tahap pertama; “Tahap Perangsang Masalah”, hal ini bersentuhan dengan fenomen peristiwa penggunaan tertentu bahasa objeknya. Fenomen tersebut menimbulkan daya tariok tersendiri bagi peneliti.
            Tahap Kedua; “ Tahap Merangsang Masalah”, yaitu peneliti sengaja memperhatikan fenomen yang diperkirakan bersifat problematis. Sehingga dari sikap reseptif  menjadi aktif, dari ‘terbangkit perhatiannya’ menjadi ‘membangkitkan perhatiannya sendiri’.
            Tahap ketiga; “Tahap Mencari Tahu Hal-Hal Terkait dengan Fenomen”, hal-hal tersebut yang sudah mendapat perhatian khusus dari sang peneliti dan dapat dicari informasinya dari bacaan, hasil diskusi, konsultasi dan faktor lain yang sejenis. Dalam tahp ketiga ini, panjang-pendeknya tergantung pada faktor internal (dalam diri peneliti: kejiwaan dan kesehatan) juga faktor eksternal (dari luar diri peneliti: waktu, tempat, dan sarana finansial).
            Tahap keempat; “Tahap Merumuskan Masalah”, merupakan tahap akhir perumusan masalah yang berbentuk pertanyaan yang mapan dan jawaban sementara yang hipotesis.

3. Kurun Pemecahan Masalah: Tahap-Tahap dan Upayanya
            Dalam upaya memecahkan masalah, si peneliti harus melalui tahap-tahap, sebagai berikut:
3.1. Tahap Penyediaan Data:
Penyediaan merupakan upaya sang peneliti menyediakan data secukupnya. Data, sebagai fenomen lingual khusus yang mengandung dan berkaitan langsung dengan masalah yang dimaksud. Data yang demikian itu, substansinya dipandang berkualifikasi valid/  sahih dan reliable/ terandal. Data harus tercukupi secara layak baik dalam hal jumlah maupun dalam hal jenis tipenya.
      Tahap ini dikatakan selesai, apabila pencataatan atasnya pada kartu data dan klasifikasi kartu datanya telah selesai dilakukan. Dalam pencatatan dapat menggunakan salah satu dari transkripsi berikut: (a) Transkripsi fonetis (masalah kefoneman), (b) Transkripsi Fonemis (masalah kemorfeman), (c) Transkripsi Ortografis (masalah kefrasaan, keklausaan, kekalimatan dan sejenisnya).
3.2. Tahap Analisis Data:
Analisis, merupakan upaya sang peneliti menangani langsung masalah yang terkandung pada data. Tindakan pengamatan diikuti langsung dengan ‘membedah’ atau mengurai juga memburai masalah yang berssangkutan dengan cara-cara tertentu yang khas.
Tahap ini dikatakan telah berakhir bila, kaidah yang berkenaan dengan objek yang menjadi masalah itu telah ditemukan. Kaidah yang dimaksud terdiri dari tiga aspek, yaitu:
(a) Lingkup Jangkauan (domain, ranah), yaitu berlakunya kaidah (yang dibatasi/ dikendalai oleh contraint-nya),
(b) Macam, jenis atau tipenya (ada berapa macam),
(c) Hubungan Pendasaran antar Kaidah (kaidah pokok atau kaidah dasar).
Dalam hal kaidah yang ditemukan tersebut, rumit dan banyaknya kaidah bukan jamian dan bukan merupakan ukuran, dimana tahap analisis ini dapat dihentikan. Yang terpenting, adalah kaidah sudah ditemukan walaupun sedikit dan sederhana. Begitu juga dalam hal penelitian dikatakan baik, adalah berdasarkan pemilihan dan penentuan pokok masalahnya.
3.3. Tahap Penyajian Hasil Analisis Data:
Penyajian merupakan upaya sang peneliti menampilkan dalam wujud ‘laporan’ tertulis apa-apa yang telah dihasilkan dari kerja analisis, khususnya kaidah. Kaidah yang telah ditemukan disajikan dengan cara tertentu dengan harapan sidang pembaca yang seminat (peer group-nya) dapat mengetahui secara cepat seluk beluk dengan tiga macam aspek di atas.
Hal tersebut dapat mempermudah pemanfaatan lebih jauh, pemanfaatan dimaksudkan adalah untuk pembandingan dengan kaidah lain mengenai fenomen yang berbeda demi pengembangan teori linguistik atau demi penajaman metode linguistik serta demi pembangkitan inspirasi dan minat ke penjelajahan masalah-masalah baru.

4. Tahap Analisis: sebagai Tahap Puncak Penelitian
            Tahap ini merupakan tahap puncak dari semua penelitian, karena tahap ini menentukan dapat ditemukan atau tidaknya kaidahyang menjadi sumber sekaligus titik sasaran obsesi setiap penelitian.
            Dengan ditemukannya kaidah yang dimaksud, maka fenomen yang tampak sebagai masalah dan menjadi sasaran objek penelitian dapat langsung dijelaskan. Sehingga sebaliknya, jika tidak ditemukan kaidah yang dicari, maka setiap masalah akan tetap jadi masalah dan penelitian tetap tidak terselesaikan dan harus terus dilanjutkan. 

5. “Metode” dan “Teknik” sebagai Konsep Kunci
            Kedua istilah “metode” dan “teknik” digunakan untuk menunjukkan dua konsep yang berbeda tetapi berhubungan langsung satu sama lain. Metode adalah cara yang dilaksanakan. Sedangkan teknik adalah cara melaksanakan metode. Dan sebagai car, kejatian teknik ditentukan adanya oleh alat yang dipakai.
            Untuk mendapatkan benda arkeologis yang terpendam dalam tanah, banyak metode yang bisa dilakukan antara lain : Orang mengerahkan kekuatan dirinya dengan konsentrasi dan meditasi yang suntuk, sehingga mucullah benda yang diinginkan itu. Menggali tanh yang bersangkutan dengam menggunakan alat misalnya cangkul, linggis, sangkur, dll. Tindakn mencangkul, melinggis dll itu disebut teknik. Dengan demikian sebuah metode dimungkinkan terwujud menjadi beberapa teknik.
            Alat merupakan pennetu kejatian teknik, pemilihannya yang tepat bergantung pada sifat data yang akan ditangani dan dianalisis. Pemilihan alat menggali tanah tergantung dari bagaimana jenis dan sifat  tanah tersebut.

6.  “Teknik” dan “Kiat”
            Kiat sebagaimana halnya teknik, merupakan cara pula. Namun, kiat lebih tidak terkait pada alat-alat yang harus sesuai dengan sifat objek penelitian itu melainkan lebih terkait pada sifat dan kemampuan penelitinya. Kiat adalah cara subjektif seseorang peneliti tertentu untuk melaksanakan, menerapkan, atau memanfaatkan teknik yang secara objektif harus dipilih. Misalnya sang pencangkul tertentu yang arkeolog itu dapat menggunakan kiatnya tersendiri yang berbeda dengan kiat pencangkul lain yang juga arkeolog. Hal ini sesuai dengan sifat sang pencangkul yang bersangkutan da dengan kadar kemampuannya dalam menggunakan dan menggerakkan cangkul pilihannya.

7.  Catatan Peristilahan
            Dalam menyifati tahap-tahap dalam kurun pemecahan masalah, tahap penyediaan data sering pula disebut tahap pengumpuln data. Penyebutan yang populer semacam itu tidak di kuti di sini karena ada lima alasan yang mendasar, antara lain :
1.      Istilah pengumpulan tidak menunjukkan secara eksplisit tujuan kegiatannya. Kata mengumpulkan tidak mencerminkan aspek tujuan khusus. Padahal istilah penyediaan cukup eksplisit menunjukkan tujuannya. Kata menyediakan pasti terkait dengan aspek tujuan khusus (menyediakan X untuk/bagi Y tertentu).
2.      Istilah pengumpulan hanya mengacu pada bagian awal dari proses kegiatan menyediakan data. Dalam tahp penyediaan data sekurang-kurangnya ada tiga kegiatan :
a.       mengumpulkan yang ditandai dengan pencatatan.
b.      pemilihan dan pemilah-milahan dengan dengan membuang yang tidak diperlukan.
c.       penataan menurut tipe atau jenis terhadap apa yang telah dicatat, dipilih, dan dipilah-pilahkan itu.
3.      Istilah pengumpulan mengandaikan apa yang dikumpulkan adalah segala sesuatu yang sudah ada. Bahasa adalah segala perkataan yang sudah dikatakan.
4.      Dengan istilah penyediaan dan bukan pengumpulan tersarankan adanya tahap kelanjutan yang lebih bermakna dalam kurun pemecahan masalah karena benar-benar dikehendaki yaitu tahap terpenuhinya tujuan penyediaan itu yang tidak lain adalah tahap analisis.
5.      Kiblat atau orientasi yang bersifat diametral istilah pengumpulan berkibla atau berorientasi ke belakng sedangkan istilah penyediaan berkiblat atau berorientasi ke depan adalah lambang yang tepat untuk pemajuan dan peningkatan manfaat ilmu pengetahuan khususnya linguistik.

Sementara itu, tahap analisis pun sering pula disebut tahap pengolahan. Namun tidak disebutkan di sini alasannya ialah menghindari kesan yang terlalu inderawi. dengan alasan semacam itulah istilah analisis data yang dipakai dan dipertahankan disepanjang buku ini, tanpa memberkan peluang istilah pengolahan sebagai alternatif. Dengan demikian bagi siapapun yang yang telah berkenan memanfaatkan konsep-konsep metodologis yang pernah saya kemukakan, menyesuaikannya pula dengan istilah yang dikemukakan dalam buku ini untuk konsep yang sama merupakan sikap dan tindakan yang sangat saya anjurkan.

















DAFTAR PUSTAKA

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa, Pengantar Penelitan Wahana Kebudayaan Secara Linguistik. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Pengertian Psikolinguistik menurut beberapah Ahli

1.       Pengertian Psikolinguistik
·         Psikologi berasal dari bahasa Inggris pscychology. Kata pscychology berasal  dari bahasa Greek (Yunani), yaitu dari akar kata psyche yang berarti jiwa, ruh, sukma dan logos yang berarti ilmu.  Jadi, secara etimologi psikologi berati ilmu jiwa.
·          Linguistik ialah ilmu tentang bahasa dengan karakteristiknya. Bahasa sendiri dipakai oleh manusia, baik dalam berbicara maupun menulis dan dipahami oleh manusia baik dalam menyimak ataupun membaca.
·         Berdasarkan pengertian psikologi dan linguistik pada uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari perilaku berbahasa, baik perilaku yang tampak maupun perilaku yang tidak tampak.

Berikut ini beberapa definisi psikolinguistik menurut:
a.       Aitchison (Dardjowidojo,2003: 7) berpendapat bahwa psikolinguistik adalah studi tentang bahasa dan minda.
b.      Harley (Dardjowidjojo,2003: 7) berpendapat  bahwa psikolinguistik adalah studi tentang proses mental-mental dalam pemakaian bahasa. Sebelum menggunakan bahasa, seorang pemakai bahasa terlebih dahulu memperoleh bahasa.
c.       Levelt (Marat,1983: 1) mengemukakan bahwa psikolinguistik adalah suatu studi mengenai penggunaan dan perolehan bahasa oleh manusia.
d.      Emmon Bach (Tarigan, 1985: 3) mengemukakan bahwa psikolinguistik adalah suatu ilmu yang meneliti bagaimana sebenarnya para pembicara/pemakai  bahasa membentuk/ membangun kalimat-kalimat bahasa tersebut.
e.       Slobin (Chaer,2003: 5) mengemukakan bahwa psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi dan bagaimana kemampuan bahasa diperoleh manusia. Secara lebih rinci Chaer (2003: 6)  berpendapat bahwa  psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat struktur bahasa, dan bagaimana struktur itu diperoleh, digunakan pada waktu bertutur, dan pada waktu memahami kalimat-kalimat dalam pertuturan itu. Pada hakikatnya dalam kegiatan berkomunikasi terjadi proses memproduksi dan memahami ujaran. 
f.       Garnham (Musfiroh, 2002: 1) mengemukakan Psycholinguistics is the study of a mental mechanisms that nake it possible for people to use language. It is a scientific discipline whose goal is a coherent theory of the way in which language is produce and understood.
‘Psikolinguistik adalah studi tentang mekanisme mental yang terjadi pada orang yang menggunakan bahasa, baik pada saat memproduksi atau memahami ujaran’.

2.      Kesimpulan mengenai gambaran Psikolinguistik
Psikolinguistik yaitu gambaran mengenai studi ilmu interdisipliner dalam kajian linguistik yang mempelajari penggunaan dan proses terjadinya bahasa oleh manusia yang diperoleh dari proses memproduksi dan memahami ujaran antara pikiran dan tubuh manusia.
Ciri-ciri psikolinguistik sebagai disiplin ilmu interdisipliner yaitu mempelajari psikologi dan linguistik. Sehingga tidak murni ilmu linguistik saja tetapi juga mengenai psikologi yang berhubungan dengan jiwa manusia.
3.      Referensi
Abdul Chaer. 2003. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Mansoer Pateda. 1990. Aspek-aspek Psikolinguistik. Ende Flores: Nusa Indah.

Samsunuwiyati Marat. 1983. Psikolinguistik. Bandung: Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran.

Soenjono Dardjowidjojo. 2003. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Tadkirotun Musfiroh. 2002. Pengantar psikolinguistik. Yogyakarta: Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Yogyakarta.

          Tarigan, Henry Guntur. 1985. Psikolinguistik. Bandung: Angkasa

Formulir Beasiwa PPA dan BBM (FSSR UNS)


Hal           :     PERMOHONAN BEASISWA
Lamp        :     …..  bendel


Yang bertandatangan dibawah ini, kami :

N a m a                                         :  
NIM                                              :  
Program/Jurusan / Semester      : 
Fakultas                                        :   
Alamat                                          :   
Telp./HP                                       :   
Status                                            :  Kawin/Janda/Duda/Belum kawin *)
Pekerjaan                                     :  bekerja /belum bekerja *)
Beasiswa                                      :  Sedang menerima / Tidak sedang menerima / Sedang mengajukan / Permohonan *) Beasiswa atau TID

Data Orang Tua  :

Status Pekerjaan
:
Kedua orang tua tidak bekerja atau pensiunan/ Hanya Bapak atau Ibu yang bekerja/ Kedua orang tua bekerja *)
Besaran gaji atau penghasilan per bulan
:
Sama atau kurang dari Rp 400 ribu / sama atau kurang dari Rp 700 ribu / sama atau kurang dari Rp 1, 7 juta / sama atau kurang dari Rp 2 juta.
Status anak
:
Yatim Piatu / Yatim atau Piatu / Kedua orang tua masih lengkap *)
Jumlah tanggungan
:
Sama atau kurang dari 10 orang / sama atau kurang dari 6 orang / sama atau kurang dari 3 orang *)

Dengan ini kami mengajukan permohonan Beasiswa yang disediakan oleh Universitas atau Lembaga/Instansi lain yang berasal dari luar.
Bersama ini pula kami lampirkan beberapa persyaratan yang diperlukan sebagai bahan pemrosesan lebih lanjut berupa :
1.       Surat Pernyataan tidak sedang menerima beasiswa dari instansi yang lain
2.       Fotocopy KHS  terakhir/terbaru (rangkap 3)
3.       Fotocopy Kartu Mahasiswa  (rangkap 3)
4.       Surat Keterangan Penghasilan Orang tua (rangkap 3)
5.       Surat Keterangan tidak mampu dari Kelurahan (rangkap 3) untuk BBM
6.       Fotocopy Kartu Keluarga (rangkap 3)
7.       Nomor rekening Bank (atas nama mhs ybs dengan nama bank yang ada di kampus UNS)
8.       Foto copy rekening listrik terakhir
9.       Pas Photo 3 x 4 ( 3 lembar)

Apabila berhasil memperoleh beasiswa, kami bersedia membuat karya tulis sesuai dengan ketentuan.

                                                                                                Surakarta,  
Mengetahui,                                                                           Pemohon
 a.n.  D e k a n
Pembantu Dekan III,



Drs. Soepono Sasongko, M.Sn                                              ……………………………
NIP 195703191989031001                                                     NIM

Coret *) yang tidak perlu


DATA PRIBADI MAHASISWA CALON PENERIMA BEASISWA …………..
TAHUN ………………….


1.   N a m a                                    :    
2.   NIM                                        :    
3.   Jenis Kelamin                           :    
4.   Tempat / Tanggal lahir               :    
5.   Alamat                                     :    
6.   Kabupaten                               :    
7.   Propinsi                                    :    
8.   Kode Pos                                 :    
9.   Fakultas                                   :    
10. Jurusan                                     :    
11. Program Studi                          :    
12. Semester                                  :    
13. Nilai IPK                                  :    
14. Nama Ayah                              :    
15. Status Ayah                              :     1. Meninggal                             2. Hidup
16. Nama Ibu                                 :    
17. Status Ibu                                 :     1. Meninggal                             2. Hidup
18. Pekerjaan Orang Tua                :    
19. Alamat Orang Tua                    :    
20. Kabupaten                         :   
21. Propinsi                                    :    
22. Kode Pos                                 :    
23. Status Beasiswa                        :    
24. Tanggal Permohonan                :    


    Surakarta,    
    Yang membuat data,




    ()
                                                                                                      NIM. 


SURAT  PERNYATAAN



Yang bertanda tangan di bawah ini saya  :

N a m a                      : 
NIM                            : 
Jurusan/Program    : 
Semester                    : 
Alamat/No. Telp     : 

Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa saya :
1.      Masih aktif kuliah di Jurusan Sastra Jawa/Program Reguler Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS
2.      Tidak sedang menerima beasiswa dari Instansi manapun
3.      Tidak sedang mengajukan keringanan/pembebasan biaya pendidikan di Fakultas Sastra dan Seni Rupa UNS.
4.      Belum menikah dan bekerja

Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya untuk memenuhi persyaratan pengajuan beasiswa.





                                                                                                Surakarta,

         Mengetahui
         Pembantu Dekan III,                                                   Pemohon,




         Drs. Soepono Sasongko, M.Sn                                 
NIP 1957031919890310001                                         NIM.              





SURAT  KESEDIAAN UPACARA



Sesuai dengan surat Rektor Nomor : 32/PT.40/H/O/1997, tanggal 15 Pebruari 1997 tentang Pedoman Persyaratan Beasiswa Mahasiswa Universitas Sebelas Maret adalah aktif mengikuti upacara bendera yang diselenggarakan oleh Universitas maupun Fakultas juga berlaku bagi mahasiswa yang sedang diusulkan. Atas dasar surat Keputusan tersebut diatas maka saya :

N a m a                      : 
NIM                            : 
Jurusan/Program    : 
Semester                    : 
Alamat/No. Telp     : 

Telah membaca/memahami dan menyatakan kesediannya untuk mengikuti upacara bendera yang diselenggarakan oleh Universitas maupun Fakultas.




                                                                                                Surakarta,
         Mengetahui
         Pembantu Dekan III,                                                   Yang menyatakan,




         Drs. Soepono Sasongko, M.Sn                                 
NIP 1957031919890310001                                         NIM.